Jejak Rahim Pancasila di Biara St Yosef Ende

Oleh Frans Sarong

Biara St Yosef Ende di Flores. Sejak lama merupakan tempat tinggal sekaligus tempat kerja para pastor ordo SVD (Societas Verbi Divini) atau Serikat Sabda Allah di lingkungan Gereja Katolik. Belakangan atau sejak lebih dua tahun lalu, ruang tamunya diubah menjadi Serambi Soekarno. Bangunan beranda itu bertemali erat dengan jejak sejarah kelahiran Pancasila.

Kalender kita menulis 1 Juni sebagai tanggal merah. Tanda bertuah. Penjelasannya sebagai “hari lahir Pancasila”. Ibarat   manusia. Jika terkait urusan kelahiran, tentu ada jejak pendahuluannya. Salah satunya kantong rahim. Boleh juga disebut pundi selaput dalam perut. Tempat janin bersemayam, yang pada saatnya lahir sebagai bayi.

Begitu pula bayi Pancasila, yang sejak awal hingga kini mejadi pilar idelogis bangsa Indonesia. Sebelum lahir, tentu saja ada kantong rahimnya. Tidak bisa disangkal. (Kota) Ende adalah rahim pertiwi yang melahirkan Pancasila.  Lebih dalam lagi. Cikal bakalnya tak terpisahkan dengan ruang tamu Biara St Yosef Ende, yang belakangan menjadi Serambi Seoakrno.

Kisahnya merentang panjang. Antara perjuangan Soekarno atau Bung Karno dan Pemerintah Kolonial Belanda tahun 1930-an. Bung Karno adalah tokoh utama yang tak pernah lelah berjuang memerdekakan bangsa Indonesia. Musuh utamanya penjajah Belanda. Karena dianggap semakin mengancam, Pemerintah Kolonial Belanda pimpinan De Jonge sebagai Gubernur Jenderal, mengambil keputusan khusus mengasingkan Bung Karno. Waktunya pun tiba. Bung Karno harus menjalani masa pembuangan di kampung nelayan Ende (Flores), sejak 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938 (Kompas, 7/11/1985)

Kampung nelayan Ende yang kini menjadi kota Kabupaten Ende, hingga tahun 1930-an hanyalah sebuah perkampungan miskin berpenduduk sekitar 5.000 jiwa. Selain terpencil, juga amat sepi dibanding keramaian di Jawa atau daerah lainnya di wilayah Nusantara (Kompas, 16/8/1985).

Dua pertanyaan menantang

Ada kisah paradoks dari pengasingan Bung Karno, kisah yang berujung lahirnya Pancasila. Seperti diketahui, musuh utama Bung Karno adalah Pemerintah Kolonial Belanda. Namun ketika menjalani masa tahanan selama lebih empat tahun di Ende, Bung Karno justru bersahabat rapat dengan para pastor yang semuanya berasal dari Belanda. Mereka di antaranya P. Johanes Bouma SVD dan P. Geradus Huijtink SVD. Kedua pastor ketika itu memangku jabatan penting di lingkungan Gereja Katolik.  P. Johanes Bouma SVD sebagai Pemimpin SVD Regio Sunda Kecil (meliputi wilayah Bali, NTB dan NTT). Sedangkan P. Geradus Huijtink SVD sebagai Pastor Paroki Katedral Ende (P. Dami Mukese SVD, dalam buku: …ut verbum Dei currat 100 Tahun SVD di Indonesia, Penerbi Ledalero, 2013). Bersama biarawan se-ordo lainnya, P. Johanes Bouma SVD dan P. Geradus Huijtink SVD ketika itu sebagai penghuni Biara St Yosef, satu kompleks dengan Gereja Katedral Ende.

Masih mengutip Dami Mukese. Berkat persahabatan rapat dengan P. Johanes Bouma SVD dan P. Geradus Huijtink SVD, Bung Karno diizinkan kapan saja berkunjung ke biara itu. Bung Karno bahkan diizinkan pula melahap berbagai jenis buku dan bahan bacaan lainnya yang ada di perpustakaan Biara St Yosef Ende. Bermodal persahabatan itu pula membuat Bung Karno tak sungkan mendiskusikan berbagai hal dengan para pastor, terutama  P. Johanes Bouma SVD dan P. Geradus Huijtink SVD. Tema diskusi macam-macam, termasuk gagasan perjuangan Bung Karno memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ternyata gagasan Bung Karno itu mendapat respons positif dari kedua pastor, namun dengan dua pertanyaan menantang.

Kedua pastor di sela sela diskusi hangat dengan Bung Karno, melontarkan dua pertanyaan medasar. Pertama, “di manakah tempat mamamu yang beragama Hindu itu di dalam negara yang mayotitas Muslim?” Lalu pertanyaan kedua: “di manakah tempat bagi orang orang Flores yang mayoritas Katolik dalam negara yang Marxis dan mayoritas Muslim itu?”

Konon, atas kedua pertanyaan menantang itulah yang membuat Bung Karno berpikir keras. Fokusnya, tentang bagaimana merumuskan dasar negara yang akan dibentuknya sungguh menjadi rumah bersama bagi segenap bangsa dengan berbagai latar belakang suku, agama, ras dan antargolongan.

Kedua pertanyaan terus menginspirasi dan menantang Bung Karno untuk mengkajinya secara cermat. Sang Pejuang lalu mematangkan kajiannya melalui permenungan khusus untuk menggali  dan menghimpun butir butir dasar negara bernama Pancasila. Uniknya lagi, permenungannya itu dilakukan pada Jumat malam, di bawah naungan pohon sukun, menghadap ke laut Pantai Ende. Pohon sukun “sakral” yang kini bertahan adalah duplikatnya. Posisinya  di titik yang sama, persisnya di tepi barat Lapangan Perse Ende, kini dalam kompleks Taman Rendo.

Pengakuan Bung Karno

Tentang kisah permenungan khusus Bung Karno menggali dan merumuskan sila sila Pancasila ketika menjalani masa pembuangan di Ende, tentu saja tidak diragukan. Sumbernya justru dari pengakuan Bung Karno sendiri. Setelah menjadi Presiden pertama RI, Soakarno berkesempatan mengunjungi Ende, tahun 1950. Saat berpidato di Lapangan Perse Ende, Sang Proklamator dilaporkan sempat menunjuk pohon sukun di tepi barat Lapangan Perse Ende. Sang Presiden ketika itu mengakui, di bawah pohon sukun itulah ia merenung dan menggali butir butir mutiara yang kemudian menjadi rangkaian Pancasila (Dami Mukese, buku yang sama, hal. 299).

Tidak bisa disangkal kalau P. Johanes Bouma SVD dan P. Geradus Huijtink SVD meninggalkan jasa amat berharga bagi bangsa dan negara Indonedia yang berlandaskan Pancasila. Mungkin bukan Pancasila  yang mejadi pilar idelogis bangsa Indonesia, jika perjuangan Bung Karno tanpa jejak persahabatan dengan kedua pastor Belanda itu. Dua pertanyaan menantang P. Johanes Bouma SVD dan P. Geradus Huijtink SVD dalam percakapan itens dengan Bung Karno, ternyata jadi pendorong kuat bagi Sang Pejuang hingga berhasil melahirkan Pancasila.

Seperti diakui pemrakarsa pembangunan Serambi Soekarno Ende, P Henri Daros SVD, percakapan itens antara Bung Karno dengan P. Johanes Bouma SVD dan P. Geradus Huijtink SVD selalu berlangsung di ruang tamu Biara St Yosef Ende. Karena menjadi jejak sejarah bernilai tinggi, maka ruang tamu lalu dipugar menjadi Serambi Soekarno. Beranda bersejarah itu langsung dilengkapi pojok baca sejarah perjuangan Bung Karno, patung Bung Karno dan juga lukisan yang menampilkan Bung Karno bersama dua sahabatnya, P. Johanes Bouma dan P. Geradus Huijtink (serambinews.com, 29/11/2020).

Ujud pembangunan Serambi Soekarno, jelas. Sepenuhnya mengenang perjuangan sekalian menghormati jejak persahabatan Bung Karno dengan para tokoh misionaris Katolik ordo SVD terutama Pater Bouma dan Pater Huijtink. Karena jejaknya tegas dan monumental pula, maka sepantasnya menempatkan Serambi Soekarno sebagai jejak awal rahim Pancasila.

Kehadiran Serambi Soekarno semakin memperkaya jejak perjuangan Sang Prokalamtor ketika menjalani masa pembuangan di Ende. Masih banyak jejak lainnya. Di antaranya rumah tempat tinggalnya yang telah menjadi Situs Bung Karno. Juga ada patung Bung Karno sedang merenung, di sekitar pohon sukun, yang juga disebut sebagai Pohon Pancasila.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.